Muhammad Iqbal merupakan seorang penyair, filsuf serta pembaharu Islam. Ia lahir di Sialkot, Punjab,
India (sekarang termasuk wilayah fakistan) pada tanggal 22 Februari 1873 M. Ia lahir berasal dari
keluarga Hindu kasta Brahmana yang sudah lama memeluk agama Islam, tepatnya tiga
abad sebelum Muhammad Iqbal lahir. Ayahnya bernama Nur Muhammad, seorang yang
shaleh dimana nilai dan ajaran Islam telah membentuk kehidupannya. Ibunda Iqbal, Imam bibi, ia dikenal sebagai seorang yang sangat religius. Pasangan Nur Muhammad dan Imam Bibi ini dibekali lima keturunan, yakni tiga perempuan dan dua laki-laki, salah satunya Muhammad Iqbal. Nenek moyangnya
berasal dari lembah Khasmir. Nama kakeknya ialah Syaikh Rafiq, beliau merupakan seorang penjaja selendang yang berasal dari Loehar, Khasmir. Penduduk Khasmir sendiri, awalnya beragama Hindu, kemudian beragama Islam kurang lebih 500 Tahun.
Pada tahun 1892, Muhammad Iqbal menikah dengan Karim Bibi, putri seorang dokter gujarat yang kaya, Bahadur Atta Muhammad Khan. dari pernikahan tersebut, Muhammad Iqbal dikaruniai tiga orang anak, Miraj Begum, yang wafat sewaktu masih muda, Aftab Iqbal, dan satu lagi meninggal saat dilahirkan.
Sebagai anak seorang sufi, Muhammad Iqbal memulai
masa pendidikannya dengan ayahnya, kemudian setelah itu masuk ke sebuah maktab
(surau/pesantren) untuk belajar Al Qur’an. Setelah menamatkan Pendidikan dasarnya,
Muhammad Iqbal melanjutkan sekolahnya di Government College, Lahore
(1885). Ia adalah salah satu murid Thomas Arnold, seorang islamologi terkenal
yang mengajar mata kuliah filsafat Islam di Government School. Pada tahun
1905, atas dorongan Thomas Arnold, Muhammad Iqbal mempelajari filsafat Barat di
London dan Berlin selama tiga tahun. Ia juga mendapat bimbingan dan pengarahan
dari Profesor Mac Taggar, seorang pengajar di Universitas Cambridge, London.
Beberapa tahun kemudian Muhammad Iqbal mendapat gelar Doktor (Ph. D) dari
Universitas Munich dengan disertasi berjudul The Development of Metaphysics
in Persia.
Muhammad Iqbal tinggal di Eropa kurang
lebih selama tiga tahun. Selama di Eropa, Muhammad Iqbal banyak belajar dan
mendalami watak-watak bangsa Eropa. Ia menyimpulkan bahwa di Barat ilmu pengetahuan
berkembang pesat, tetapi sayangnya sangat miskin dengan Nurani, sehingga timbul
segala macam kesulitan dan pertentangan yang disebabkan oleh individualism yang
sempit. Tetapi, ia sangat mengagumi sifat dan dinamika bangsa Barat yang tidak
kenal puas dan putus asa. Adapun Timur, menurutnya mengalami kemunduran karena
terjangkit kejumudan (tertutup dari pintu ijtihad) dan salah dalam menafsirkan
makna takdir. Kemunduran tersebut dilatarbelakangi hilangnya gairah menuntut
ilmu pengetahuan seperti para pendahulu yang dapat memimpin dunia karena ilmu
pengetahuan.
Di Inggris, ia pernah menjabat guru besar Bahasa
dan sastra Arab di Universitas London selama enam bulan. Kemudian pada tahun
1930, ia memasuki bidang politik dan menjadi ketua konferensi tahunan liga
Muslim di Allahabad, kemudian pada tahun 1931 dan 1932 ia ikut dalam Konferensi
Meja Bundar di London yang membahas tentang konstitusi baru bagi India.
Muhammad Iqbal salah satu cendekiawan
Muslim terkemuka. Pandangannya senantiasa bertolak belakang dari ayat-ayat Al
Qur’an dan Hadis. Baginya, dengan melihat sejarah masyarakat Asia, agama
memainkan peranan penting dalam kehidupan umat manusia, termasuk didalamnya
perkembangan peradaban dan kebudayaan. Meskipun ia seorang penyair dan filsuf,
yang mana pemikiranya sangat berpengaruh pada Gerakan pembaruan Islam, ia banyak
mengkritik penyimpangan dan pengaburan agama oleh para sultan, ulama, cendekiawan
dan pemimpin Islam yang menjadikan agama sebagai kendaraan untuk meraih
keuntungan politik dan ekonomi. Ada beberapa pandangan Muhammad Iqbal tentang
ekonomi yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi Islam kontemporer, antara
lain:
1. Kelemahan
Kapitalisme dan Komunisme
Semangat kapitalisme,
yang menumpuk kapital atau materi sebagai nilai dasar system ini, bertentangan
dengan semangat Islam. Demikian pula semangat Komunisme yang banyak melakukan
paksaan pada masyarakat juga bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Tidak
hanya itu, seluruh ide-ide sekuler negara modern seperti nasionalisme,
sosialisme, komunisme, demokrasi, dan ide-ide barat lainnya adalah Buruk. Ia mengangap
bahwa Islam menjadi system yang baik dan merupakan obat penawar bagi penyakit-penyakit
manusia.
2. Pentingnya
ijtihad dalam menyelesaikan masalah
Menurut Muhammad Iqbal,
Ijtihad merupakan sikap bersungguh-sungguh dalam membentuk suatu keputusan yang
bebas untuk menjawab permasalah hukum.maka dari hal itu, ijtihad merupakan
kebutuhan urgen dalam mengembangkan hukum Islam yang mengacu pada kepentingan
umat dan kemajuan hukum. Maka perlu mengalihkan kekuasaan ijtihad individual
kepada ijtihad kolektif atau ijma.
3. Zakat
sebagai posisi strategis untuk terciptanya keadilan social sebuah negara
Muhammad Iqbal sangat
memperhatikan aspek social masyarakat, ia menyatakan bahwa keadilan social
masyarakat adalah tugas besar yang harus diemban suatu negara. Zakat dianggap
mempunyai posisi yang strategis untuk mewujudkan keadilan social disamping
zakat juga merupakan kewajiban dalam Islam. Harta zakat akan dirasakan oleh
orang-orang yang berhak untuk menerimanya, disinilah pemerataan keadilan social,
dimana setidaknya orang yang tidak mampu menikmati daripada harta yang
dizakatkan oleh muzzaki.
DAFTAR PUSTAKA
Zamzam, F., Aravik, Havis. "Perekonomian Islam : Sejarah dan Pemikiran".Jakarta: Pranadamedia Group. 2019.

0 comments:
Post a Comment