WHAT'S NEW?
Loading...

Biografi dan Pemikiran Ekonomi Muhammad Iqbal (1873-1935 M)



Muhammad Iqbal merupakan seorang penyair, filsuf serta pembaharu Islam. Ia lahir di Sialkot, Punjab, India (sekarang termasuk wilayah fakistan) pada tanggal 22 Februari 1873 M. Ia lahir berasal dari keluarga Hindu kasta Brahmana yang sudah lama memeluk agama Islam, tepatnya tiga abad sebelum Muhammad Iqbal lahir. Ayahnya bernama Nur Muhammad, seorang yang shaleh dimana nilai dan ajaran Islam telah membentuk kehidupannya. Ibunda Iqbal, Imam bibi, ia dikenal sebagai seorang yang sangat religius. Pasangan Nur Muhammad dan Imam Bibi ini dibekali lima keturunan, yakni tiga perempuan dan dua laki-laki, salah satunya Muhammad Iqbal. Nenek moyangnya berasal dari lembah Khasmir. Nama kakeknya ialah Syaikh Rafiq, beliau merupakan seorang penjaja selendang yang berasal dari Loehar, Khasmir. Penduduk Khasmir sendiri, awalnya beragama Hindu, kemudian beragama Islam kurang lebih 500 Tahun. 
Pada tahun 1892, Muhammad Iqbal menikah dengan Karim Bibi, putri seorang dokter gujarat yang kaya, Bahadur Atta Muhammad Khan. dari pernikahan tersebut, Muhammad Iqbal dikaruniai tiga orang anak, Miraj Begum, yang wafat sewaktu masih muda, Aftab Iqbal, dan satu lagi meninggal saat dilahirkan. 
Sebagai anak seorang sufi, Muhammad Iqbal memulai masa pendidikannya dengan ayahnya, kemudian setelah itu masuk ke sebuah maktab (surau/pesantren) untuk belajar Al Qur’an. Setelah menamatkan Pendidikan dasarnya, Muhammad Iqbal melanjutkan sekolahnya di Government College, Lahore (1885). Ia adalah salah satu murid Thomas Arnold, seorang islamologi terkenal yang mengajar mata kuliah filsafat Islam di Government School. Pada tahun 1905, atas dorongan Thomas Arnold, Muhammad Iqbal mempelajari filsafat Barat di London dan Berlin selama tiga tahun. Ia juga mendapat bimbingan dan pengarahan dari Profesor Mac Taggar, seorang pengajar di Universitas Cambridge, London. Beberapa tahun kemudian Muhammad Iqbal mendapat gelar Doktor (Ph. D) dari Universitas Munich dengan disertasi berjudul The Development of Metaphysics in Persia.
Muhammad Iqbal tinggal di Eropa kurang lebih selama tiga tahun. Selama di Eropa, Muhammad Iqbal banyak belajar dan mendalami watak-watak bangsa Eropa. Ia menyimpulkan bahwa di Barat ilmu pengetahuan berkembang pesat, tetapi sayangnya sangat miskin dengan Nurani, sehingga timbul segala macam kesulitan dan pertentangan yang disebabkan oleh individualism yang sempit. Tetapi, ia sangat mengagumi sifat dan dinamika bangsa Barat yang tidak kenal puas dan putus asa. Adapun Timur, menurutnya mengalami kemunduran karena terjangkit kejumudan (tertutup dari pintu ijtihad) dan salah dalam menafsirkan makna takdir. Kemunduran tersebut dilatarbelakangi hilangnya gairah menuntut ilmu pengetahuan seperti para pendahulu yang dapat memimpin dunia karena ilmu pengetahuan.
Di Inggris, ia pernah menjabat guru besar Bahasa dan sastra Arab di Universitas London selama enam bulan. Kemudian pada tahun 1930, ia memasuki bidang politik dan menjadi ketua konferensi tahunan liga Muslim di Allahabad, kemudian pada tahun 1931 dan 1932 ia ikut dalam Konferensi Meja Bundar di London yang membahas tentang konstitusi baru bagi India.
Muhammad Iqbal salah satu cendekiawan Muslim terkemuka. Pandangannya senantiasa bertolak belakang dari ayat-ayat Al Qur’an dan Hadis. Baginya, dengan melihat sejarah masyarakat Asia, agama memainkan peranan penting dalam kehidupan umat manusia, termasuk didalamnya perkembangan peradaban dan kebudayaan. Meskipun ia seorang penyair dan filsuf, yang mana pemikiranya sangat berpengaruh pada Gerakan pembaruan Islam, ia banyak mengkritik penyimpangan dan pengaburan agama oleh para sultan, ulama, cendekiawan dan pemimpin Islam yang menjadikan agama sebagai kendaraan untuk meraih keuntungan politik dan ekonomi. Ada beberapa pandangan Muhammad Iqbal tentang ekonomi yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi Islam kontemporer, antara lain:
1.    Kelemahan Kapitalisme dan Komunisme
Semangat kapitalisme, yang menumpuk kapital atau materi sebagai nilai dasar system ini, bertentangan dengan semangat Islam. Demikian pula semangat Komunisme yang banyak melakukan paksaan pada masyarakat juga bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Tidak hanya itu, seluruh ide-ide sekuler negara modern seperti nasionalisme, sosialisme, komunisme, demokrasi, dan ide-ide barat lainnya adalah Buruk. Ia mengangap bahwa Islam menjadi system yang baik dan merupakan obat penawar bagi penyakit-penyakit manusia.
2.    Pentingnya ijtihad dalam menyelesaikan masalah
Menurut Muhammad Iqbal, Ijtihad merupakan sikap bersungguh-sungguh dalam membentuk suatu keputusan yang bebas untuk menjawab permasalah hukum.maka dari hal itu, ijtihad merupakan kebutuhan urgen dalam mengembangkan hukum Islam yang mengacu pada kepentingan umat dan kemajuan hukum. Maka perlu mengalihkan kekuasaan ijtihad individual kepada ijtihad kolektif atau ijma.
3.    Zakat sebagai posisi strategis untuk terciptanya keadilan social sebuah negara
Muhammad Iqbal sangat memperhatikan aspek social masyarakat, ia menyatakan bahwa keadilan social masyarakat adalah tugas besar yang harus diemban suatu negara. Zakat dianggap mempunyai posisi yang strategis untuk mewujudkan keadilan social disamping zakat juga merupakan kewajiban dalam Islam. Harta zakat akan dirasakan oleh orang-orang yang berhak untuk menerimanya, disinilah pemerataan keadilan social, dimana setidaknya orang yang tidak mampu menikmati daripada harta yang dizakatkan oleh muzzaki.


DAFTAR PUSTAKA
Zamzam, F., Aravik, Havis. "Perekonomian Islam : Sejarah dan Pemikiran".Jakarta: Pranadamedia Group. 2019.

0 comments:

Post a Comment